×Close

Notifications

Disqus Logo

Tuesday, October 29, 2019

Sistem 2:1 Jalur Puncak Langkah Pemerintah Jawab Keresahan Masyarakat

Sumber  gambar : Merdeka.com
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Perhubungan, Satlantas Polres Bogor, dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ)  melakukan uji coba sistem 2:1 di jalur Puncak.  Uji coba tersbut mulai dilaksanakan pada Mimggu (27/10/2019).

Sebelumnya, saat pemberlakuan one way di jalur Puncak, masyarakat merasa resah karena keperluannya terkadang terhambat dengan adanya sistem one way di jalur Puncak.

Menurut Bupati Bogor, Ade Yasin, uji coba sistem 2:1 ini untuk menjawab keluhan masyarakat terhadap pengoperasian one way yang sudah ditetapkan sejak tahun 1985 sehingga pemberlakuan sistem 2:1 ini tidak ada lagi pembatasan jam berkendara di jalur Puncak.

Setelah dicoba diberlakukan sistem 2:1, ternyata volume kendaraan lebih banyak dan jalur tidak kondusif sehingga kemacetan di jalur wisata itu menjadi parah. Terlebih di daerah selarong, simpang Megamendung, simpang Hankam, dan gerbang masuk Taman Safari Indonesia.

Ade Yasin menyebut bahwa penerapan sistem 2:1 masyarakat belum terbiasa.
“Sekarang silahkan datang kapan saja karena tidak dibatasi jam,” kata politisi PPP itu di pos TMC Gadog, Minggu (27/10/2019).

Sistem 2:1 merupakan pengoperasian jalur lalu lintas di jalan raya Puncak mulai dari pos TMC Polri Gadog hingga simpang Taman Safari Indonesia. Sistem tersebut terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, pagi hingga siang 2 jalur ke arah Puncak dari arah Jakarta. Kedua, siang sampai malam dengan dua jalur ke Jakarta dari arah Puncak. Ketiga, malam hingga subuh jalur lalu lintas kembali normal.
“Masyarakat atau pengendara bisa menyesuaikan waktu dan kebutuhannya,” ucap Kasatlantas Polres Bogor, AKP. M. Fadli Amri.

Uji coba kedua akan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2019. Berikut beberapa hal yang musti diketahui oleh para pengendara yang akan melintas di jalur Puncak tersebut.

Dalam sistem ini, di masing-masing jalur diberi pembatas jalan atau traffiv kons di sepanjang jalan Gadog hingga Safari dilengkapi dengan tujuh titik arah putar balik di jalan yang memiliki ruas lebar, salah satunya di Megamendung dan Cisarua dengan rambu-rambunya.
“Bagi pengendara yang akan memutar balik disarankan mengambil ruas yang lebar dan ke sisi jalan agar bisa langsung berbelok dan tidak terjadi maju mundur. Selain itu, kami pun menyiagakan personil di titik itu untuk mengantisipasi terjadi hambatan," terang Fadli.
Lanjut Fadli, ia menegaskan bahwa dengan sistem ini diutamakan untuk kendaraan roda empat, sedangkan utnuk roda dua mengikuti alur.
“Tetapi diarahkan untuk mengambil lajur kiri tanpa saling menyalip. Demi kelancaran dan keamanan bersama dalam berkendara,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris BPTJ, Hindro Suramat angkat bicara. Ia mengatakan bahwa sistem 2:1 di jalur Puncak masih kurang efektif. Masih banyak yang harus dibenahi dan dievaluasi. Terutama pelebaran jalan, mobil yang tidak parkir dengan benar, masih banyak PKL yang masih berjualan di bahu jalan, dan keluar masuk kendaraan dari beberapa gang, seperti simpang Gadog, simpang Hankam, dan yang lainnya.
"Kendala itu mulai dari penyempitan jalan, banyak PKL yang masih berjualan di bahu jalan dan juga keluar masuk kendaraan dari beberapa gang," pungkasnya.
Perlu diketahui bahwa sistem ini baru percobaan pertama. Pasalnya akan diuji kembali pada pekan depan, yakni Minggu (3/11/2019) dengan harapan dapat menjawab keresahan masyarakat dan lebih efektif dibandingkan dengan uji coba pertama. (MHT).

Tags :

bm

MHT

Pembelajar

Spread Goodness and Expedience.

  • MHT
  • Agustus 19, 2000
  • Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  • muhamadhusnitamami@gmail.com
  • +62821 2582 6729

Post a Comment