×Close

Notifications

Disqus Logo

Friday, December 13, 2019

Kota Kembang Selalu Ada Cerita


Usai melaksanakan sholat, aku bergegas menuju Terminal Kampus, sebuah tempat makan yang sering dikunjungi mahasiswa IPB di Babakan Raya (Bara). Lokasinya tak jauh dari kampusku. Udara malam merasuki setiap rongga-rongga tulang rusukku. Tak dirasa, kaki pun terus melangkah untuk bertatap muka dengan calon pemimpin bangsa. Memang waktu itu sedang ada pertemuan Badan Pengurus Harian (BPH) Paguyuban Bidik Misi (PBM) IPB. Agendanya adalah sharing dengan pengurus periode sebelumnya dan membahas arah paguyuban kedepannya.


Lima belas menit kemudian kakiku sampai juga di Terminal Kampus. Sambil menunggu PBM demisioner, aku sempatkan untuk berbincang. Memperkenalkan nama, asal, departemen, dan fakultas. Begitu pun dengan yang lainnya, ada Ka Lutfi, Ka Nurul, Ka Dila, Amir, dan Septiani.

Tak lama dari bincangan itu, demisioner PBM pun mulai satu persatu pada datang. Semuanya perempuan. Selama kurang lebih 1 jam, diskusi itu pun kami selesaikan.

Mengingat waktu hampir jam malam (jamal) bagi mahasiswa tingkat 1 yang di asrama, diskusi itu diselesaikan. Bincangan itu pun diakhiri dengan canda dan tawa yang menjadi penghangat di dinginnya butiran hujan.

Usai pertemuan itu, sesuai agenda kulanjutkan kaki ini untuk menuju ke Kota Kembang, Bandung. Sebuah kota yang menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Karena esoknya ada kegiatan Seminar Nasional HAM di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat. 

Dengan hati yang meyakinkan dan doa restu orang tua (sebelumnya aku kabari orang tuaku), kutembus udara malam itu bersama motor kesayangan, Si Jagur Hitam namanya. Kulewati setiap liku perjalanan. Karena belum salat Isya, aku pun mencari tempat untuk melaksanakannya kewajibanmu sebagai seorang hamba-Nya. 


Lokasinya tidak jauh dari kampusku. Mushola Pom Bensin itu menjadi tempat salatku pada saat itu. Bagiku, rasanya takut saja jika belum melaksanakan kewajiban ku kepada Allah. Aku juga memohon doa agae perjalananku berada dalam lindungan-Nya.

Lima belas menit berlalu. Aku lanjutkan perjalanan. Dengan semangat membara, kulawan rasa kantuk itu bersama motor kesayangan. 

***

Angin terus membuat dingin tubuhku. Tepat di jalan Gadog, dekat rumahku. Abah mengirim pesan.

"Sareng saha ka Bandungna?  Ayeuna di mana? 

"Nyalira, Bah. Nembe gadog," balasku pada abah 

"Oh, nya. Kade di jalanna. Abah nuju di Jakarta, di H. Ojak nuju aya muludan, " kata Abahku. 

Di waktu yang bersamaan. Aku kontak temanku, namanya Saepul Saban. Saat itu dia sedang ada di rumah. Rencananya aku mau menginap dulu di rumahnya. Pukul 02.00 WIB baru melanjutkan lagi perjalanan. Akan tetapi, tidak ada balasan darinya. Perjalanan pun kulanjutkan. 


Tepat memasuki wilayah puncak. Suhu semakin rendah. Artinya, udara sangat dingin. Jaket hitamku tak bisa menahan dinginnya angin malam itu. 


"Tak apa, kulanjutkan saja perjalanan ini," pikirku dalam hati. 

Perjalanan pun baru sampai di Cipanas. Karena lapar, aku mampir dulu ke penjual nasi goreng. Lokasinya di sebelah kiri kalau dari arah Bogor. Dengan harga Rp130000, alhamdulillah sudah bisa membuatku kenyang. Perjalanan pun kulanjutkan. 


Tak terasa, perjalan pun sudah sampai di Cianjur. Saat itu, tubuh mulai lelah. Mata mulai merasa kantuk, tetapi hati masih kuat. Kulanjutkan saja perjalanan itu. 


Namun, walau hati masih kuat, tubuh sudah ingin untuk istirahat. Perjalanan pun kuhentikan. Aku istirahat di Masjid Darussalam, Cianjur. Jalurnya sudah masuk arah Bandung. 

Di masjid ini, aku tidur di terasnya. Saat itu, bukan hanya sekadar diriku, melainkam ada juga yang ikut tidur di masjid itu. Walau dingin, tak apa, demi ke Bandung untuk mencari ilmu dan dan pengalaman baru. Aku masih ingat, malam itu waktu menunjukkan sekitar jam 12 malam. Di malam yang dingin itu aku berharap bisa bangun di sepertiga kalam terakhir, tepatnya pukul 02.00 WIB karena perjalananku masih panjang. 


Dengan bersyukur pada Allah, Alhamdulillah akhirnya aku bangun juga di sepertiga malam. Kuambil air wudhu dan bersujuf kepadanya seraya berdoa kepada Allah. 

Tak lama dari itu, tepat 03.00 WIB perjalanan kulanjutkan. Aku berharap bisa tiba di Bandung tepat subuh. Atau paling lambat sebelum pukul 06.00 WIB karena aku belum tau tempatnya di mana, jadi harus pagi-pagi agar tak tertinggal rombongan di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. 

Perjalanan pun terus lanjutkan. Udara pagi  Cianjur begitu sejuk. Semangat di dini hari itu terus melekat pada diriku. 


Adzan Subuh pun berkumandang. Alhamdulillah, aku bersyukur karena waktu Subuh aku sudah berada di bandung, tetapi perjalanan menuju Disdik Jabar membutuhkan waktu sekitar 40 menit lagi. Di masjid itu, aku melaksanakan salat Subuh bersama warga setempat dan orang luar yang ikut salat di masjid Ar-Ridwan itu.

Lepas itu, kulanjutkan kembali perjalanan menuju Disdik Jabar. Kuhirup atmosfer pagi di Kota Bandung. Jalanan sudah mulai ramai, tetapi roda Si Jagur Hitam terus berputar hingga akhirnya tiba di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.



Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di tempat tujuan awal. Aku bertemu dengan panitia Seminar Nasioanal HAM. Bertemu dengan Kang Hendra, Kang Bayu, Kang Adit Teh Bila, dan kawan-kawan lainnya. Di Disdik tidak lama, hanya 20 menit saja. Aku bersama Kang Hendera dan Kang Adit lebih dulu menuju gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispuspida) Provinsi Jawa Barat. Hanya membutuhkan waktu 30 menit saja. Tepat pukul 06.10 WIB akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Aku bersama Kang Hendra dan Kang Adit menyiapkan kondisi aula dan perlengkapan lainnya.

***

Satu hari kuhabiskan di Kota Kembang ini dalam rangkaian Seminar Nasional HAM yang diselenggarakan oleh FPSH HAM Jawa Barat. Aku mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, dan tentunya bahan tulisan baru yang akan kuabadikan dalam secarik kertas suatu saat nanti sehingga secarik kertas itu menjadi bukti bahwa aku pernah berjuang di masa muda. Di kegiatan ini juga aku diposisikan sebagai pembuat berita yang dipublikasikan melalui web FPSH HAM Jawa Barat dengan bantuan Kang Bayu dan Teh Dea yang merupakan ahli dalam bidangnya.


Aku juga bertemu dengan pemuda insprasi, namanya Kang Andika. Ia sebelumnya adalah anak jalanan, tetapi sekarang menjadi pemuda yang menginspirasi banyak orang.


Usai kegiatan seminar, aku foto bersama dengan adik-adik dari Kabupaten Bogor. Selain itu, bersama panitia yang lain juga ikut membereskan aula. Walau sebentar, tetapi alhamdulillah bisa membantu panitia. 

Di senja Kota Kembang, aku izin pamit kepada Kang Nandi (ketua FPSH HAM Jawa Barat). Aku berterima kasih kepadanya, begitu juga dengan kawan panitia lainnya, terlebih kepada Bunda Suci sebagai pengarah FPSH HAM Jawa Barat. 

Bersama senja, aku pulang ke Kota Hujan. Melewati hujan yang kian membasahi jaket hitamku. Akan tetapi, aku terus mengendari Si Jagur Hitamku. Aku harus mengejar waktu, karena esok pagi ada giat lagi di kampusku, yaitu foto kabinet Abdi Karya Paguyuban Bidik Misi IPB.

***

Itulah perjalananku di pekan lalu. Tulisan sederhana ini sengaja aku buat untuk menjadi saksi hidupku bahwa kau pernah melanglangbuana Kota Kembang. Perjalanan menuju Kota Kembang bukan sekali dua kali, melainkan lebih dari itu. Suka duka di Kota Kembang pernah aku rasakan. Mungkin lain waktu aku bisa menuliskannya. Semoga saja tulisan sederhanai ini ada manfaaatnya. Dalam tulisan ini bukan untuk pamer atau bahkan sombong, melainkan untuk berbagi pengalaman dan cerita. Terima kasih kuucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan keselamatan kepadaku selama dalam perjalanan. Tidak lupa kuberikan kepada orang tuaku yang selalu mendoakan setiap langkahku, guru-guruku, pengurus FPSH HAM Jawa Barat, pengarah FPSH HAM Jawa Barat, dan orang-orang baik selama perjalanan ke Kota Kembang ini.

Bogor, 13 Desember 2019
Muhamad Husni Tamami

Tags :

bm

MHT

Pembelajar

Spread Goodness and Expedience.

  • MHT
  • Agustus 19, 2000
  • Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  • muhamadhusnitamami@gmail.com
  • +62821 2582 6729

2 Reviews:

  1. Don't stop writing kak, overall ur blog is very nice!😊

    ReplyDelete