×Close

Notifications

Disqus Logo

Friday, August 28, 2020

Kota Kembang Penuh Cerita - Part 2

Hari ini saya kembali ke Kota Bandung. Kota dengan sebutan Kota Kembang ini memberikan banyak makna hidup kepada saya. Di kota ini juga saya banyak belajar tentang bagaimana arti sebuah perjuangan. Beberapa tahun terakhir saya memang sering ke kota ini untuk rapat, silaturahmi, maupun agenda pribadi lainnya.

Agenda hari ini bukan rapat atau kegiatan, melainkan mengantar sahabat saya untuk membereskan pakaian-pakaian yang ada di asrama putra Universtitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Saat menunggu antrean di ruang sekretariat, saya sempat bertemu dengan mahasiswa UPI angkatan 2018. Namanya Yuni Sartika, ia asal dari Cianjur. Ternyata dia juga punya rumah di Cijati, Cianjur. Cijati adalah jalur kampung halaman abah saya. Jadi, kalau ke rumah orang tua abah saya jalurnya ke arah Cijati.

Selain itu, ternyata dia juga memiliki teman di IPB jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat angkatan 2018. Satu jurusan dengan saya. Namanya Garnita, kata dia. Ternyata Garnita itu adalah kakak tingkat yang pada hari ini saya komunikasi untuk meminta data base-nya. Pikir saya, hidup ini saling satu menyatukan. Kadang kita dipertemukan untuk lebih mempererat silaturahmi.

Singkat cerita, pakaian di asramanya sudah rapi. Beberapa dimasukkan ke dalam koper. Ada juga yang di kresek, tote bag, dan tas. Lumayan banyak. Semua barang itu harus segera dikeluarkan, karena asramanya akan segera disterilkan.

Sahabat saya, Saepul Sa'ban langsung memesan jasa pengiriman barang melalui salah satu platform digital. Saya diminta untuk ikut di mobil yang mengantar barang tersebut. Saban akan menyimpang barang tersebut di temannya, Faisal, di daerah Pasar Baru, Bandung. Sebetulnya bukan rumahnya Faisal, tepatnya rumah neneknya Faisal.

Saya bersama supir mulai melaju ke arah Pasar Baru. Saya tidak fokus melihat jalan karena sibuk dengan gawai. Bukan tak peduli, tetapi di gawai saya muncul notifikasi dari grup PADI Jawa Barat 2020. Isinya tentang rapat yang akan dilaksanakan pukul 16.00 WIB. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.00 WIB kurang beberapa menit. Saya stand by di gawai agar tidak tertinggal informasi.

Tidak terasa, mobil yang membawa barang-barang Saban sudah sampai di Pasar Baru, Bandung. Saya disambut oleh Faisal. Tidak lama pula Saban muncul melalui motornya. Kami mulai menurunkan barang-barang dan merapikannya di rumah neneknya Faisal.

Usai salat, satu di antara kami memutuskan untuk ke Masjid Agung Kota Bandung. Lokasinya memang tidak jauh. Kami menempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit.

Di perjalanan, tepatnya di Jalan Soedirman Bandung saya mengamati jalanan begitu sepi. Kendaraan lancar tanpa ada kemacetan. Saya pikir, mungkin ini dampak dari Covid-19. Kalau tidak salah, jalanan ini biasanya sore ramai, tetapi ini sepi. Tak biasanya.

Awalnya saya pikir di Masjid Agung Kota Bandung yang dekat Alun-Alun Bandung itu akan sepi juga, tetapi ternyata di tempat itu ramai. Ramai dengan pengunjung dan ramai pula dengan pedagang kaki lima. Namun, untuk alun-alunnya masih ditutup.

"Kalau seandainya alun-alun dibuka, mungkin akan lebih ramai lagi," pikirku sejenak.

Kami langsung menuju ke tempat wudhu, karena waktu maghrib telah tiba. Suara imam yang merdu, membuat saya rindu dengan Masjid Al-Hurriyyah, IPB University.

Usai melaksanakan salat, kami mencoba melihat kondisi Jalan Afrika, Bandung. Kami tetap menggunakan masker sebagai salah satu cara untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Tenggorokan kering, akhirnya kami membeli minuman jeruk. Saya dan Faisal jeruknya dingin, sedangkan Saban jeruk hangat. Saya sempat mengobrol dengan tukang es jeruk itu.

"Pa, ini memang alun-alun belum dibuka?"

"Iya memang belum saat adanya Corona," jawabnya.

"Oh begitu, kalau masjid sempat tutup pa?"

"Iya masjid sempat tutup dan sekarang baru dibuka. Itu pun hanya pintu samping aja. Kalau yang pintu deket alun-alun masih tutup."

Saya menyimak saja. Tidak lama, pesanan kami sudah jadi. Kami membayarnya lalu bergegas mencari tempat untuk menikmati minuman jeruk itu.

Sembari mencari tempat yang pas, saya melihat orang-orang sedang mengabadikan momennya. Tidak sedikit yang begitu, bahkan ada juga yang berfoto dengan superhero yang ada di sekitar situ. Selain itu, saya juga melhat Palestine Walk yang merupakan jalan khusus Palestina. Saat saya cek, ternyata Palestine Walk tersebut ditandatangani oleh Wali Kota Bandung, Menteri Luar Negeri Indonesia, dan Menteri Luar Negeri Palestina. Sebetulnya saya tidak tahu percis maksudnya apa, tapi saya salut saja dengan adanya Palesitne Walk.

Setelah mencari yang membutuhkan waktu lama. Akhirnya kami menemukan tempat untuk menikmati minuman jeruk itu. Kami duduk di kursi dengan di sekitar kami orang-orang yang sedang menikmati atmosfer malam Jalan Afrika. Saya melihat suatu kehidupan di sini. Ada yang sedang shooting untuk konten Youtube-nya, ada yang sedang mencari nafkah, dan ada pula yang hanya menikmati malamnya Jalan Afrika.

Di tempat itu, kami cukup lama. Namun tidak terasa, waktu Isya sudah dekat. Akhirnya kami bersiap-siap  untuk menunaikan salat Isya. Kami diajak Faisal ke masjid China. Terkait masjid China, saya akan coba membuat tulisan sendiri tentang masjid itu, karena menurut saya topiknya bagus dan semoga saja bisa bermanfaat.

Setelah salat, kami diajak Faisal untuk jalan menuju Braga. Di tengah perjalanan saya tengok kanan dan kiri. Saya menemukan tempat-tempat yang sedang berwirausaha. Ada cafe, restoran, ataupun tempat lainnya. Saya sangat salut karena dengan tempat wirausaha ini bisa membantu perekonomian Indonesia terlepas dari tempat itu baik atau tidak. Saya husnudzon saja.

Saya juga bertemu dengan anggota Komunitas Anak Muda Kota Bandung yang menawarkan hasil produknya yang berupa minuman. Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan komunitas tersebut karena mereka sudah mulai melangkah ke dunia perekonomian yang nantinya akan membantu perekonomian Indonesia juga.

Jalan-jalan tersebut akhirnya sampai ke Pasar Baru, tempat rumah neneknya Faisal. Lalu kami menikmati sajian gorengan, kopi, susu, dan nasi goreng. Alhamdulillah perjalanan yang penuh banyak hikmah dan pelajaran.

Awalnya saya berpikir Bandung itu sepi di tengah pandemi. Namun, nyatanya masih ada kehidupan. Saya juga melihat orang-orangnya bermasker. Itulah perjalanan saya yang bsia di share. Dari tulisan ini ada beberapa poin yang bisa diambil hikmahnya, seperti menjaga silaturahmi, tetap berprasangka baik kepada orang lain, menajaga diri dengan mematuhi protokol kesehatan.

Terima kasih.

Bandung, 23 Agustus 2020

Muhamad Husni Tamami

Tags :

bm

MHT

Pembelajar

Spread Goodness and Expedience.

  • MHT
  • Agustus 19, 2000
  • Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  • muhamadhusnitamami@gmail.com
  • +62821 2582 6729

Post a Comment