×Close

Notifications

Disqus Logo

Thursday, September 24, 2020

Hari Tani Bukan Sekadar Formalitas Elit Negeri

Hari ini, 24 September 2020, tepat 57 tahun Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno membuat keputusan Nomor 169 Tahun 1963 dengan menetapkan 24 September adalah Hari Tani. Dipilihnya 24 September karena bertepatan dengan tanggal Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok  Agraria (UUPA 1960) disahkan. 

Kenapa ditetapkannya di momen UUPA? Karena di sana terdapat perjuangan para pahlawan Indoesia dalam memperjuangkan pertanian di Indonesia.

Sedikit membahas sejarah UUPA. Sebelumnya, undang-undang tentang pertanian menggunakan UU Agraria Kolonial. Namun, sejak Indonesia lepas dari jajahannya, pemerintah Indonesia kemudian berusaha merumuskan UU Agraria baru untuk mengganti UU Agraria Kolonial.

Tahun 1948, Indonesia mulai membentuk panitia Agraria Yogya. Ini dilakukan saat ibukota RI di Yogyakarta. Namun, dampak dari politik, usaha itu pun tidak berhasil.

Hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, ibukota RI kembali ke Jakarta. Panitia Agrararia Yogya yang telah terbentuk diteruskan di Jakarta dengan berganti nama menjadi Panitia Agraria Jakarta. 

Panitia Agraria Jakarta menghadapi berbagai dinamika. Panitia Agraria Jakarta sempat mandeg hingga harus berganti sebanyak 4 kali, mulai dari Panitia Soewahjo (1955), Panitia Negara Urusan Agraria (1956), Rancangan Soenarjo (1958), hingga Rancangan Sadjarwo (1960).

Kemudian, Menteri Pertanian (1959), Soenaryo, memprakarsai Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk digodog oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR -GR). Al hasil, pada 24 September 1960, RUU tersebut disetujui DPR sebagai UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria kemudian dikenal dengan Undang-Undang Pembaruan Agrarian (UUPA). Undang-undang ini mengubah produk hukum agraria di masa Belanda .

Dilansir dari SariAgri,  UUPA merupakan kebijakan hukum yang mengarah pada bidang agraria dalam usaha mengurus dan membagi tanah dan sumber daya alam lainnya yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat, di mana dasar politik hukum agraria nasional dinyatakan dalam teks asli UUD 1945 dalam Pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Kemudian, 3 tahun berikutnya tepat 24 September 1963, Presiden Soekarno menetapkan 24 September sebagai Hari Tani.

Pada dasarnya, Hari Tani adalah pengingat para elit pemerintah untuk memperjuangkan para petani di Indonesia. Hari Tani bukan hanya sekadar hari yang hanya diperingati sebagai bentuk formalitas pemerintah mengingat Hari Tani. Bukan itu sebetulnya. Justu Hari Tani ini harus menjadi momen bagi pemerintah untuk lebih peka terhadap petani-petani Indonesia. Bukan malah sebaliknya, menggusur hak-hak petani hanya untuk kepentingan politik atau kepentingan kekuasaannya.

Sekarang, isu-isu pertanian mulai berkembang di masyarakat. Pengalihan fungsi lahan sudah banyak ditemukan. Sebetulnya, kemana dukungan pemerintah terhadap pertanian?

Memang ada program untuk menyejahterakan petani, tapi nyatanya masih banyak petani yang belum sejahtera.  Padahal dari petani-lah kita bisa makan, dari petani-lah kita bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa merasa kelaparan. Walau itu hakikatnya adalah pemberian Tuhan.

Hari Tani, jangan dipolitisasi. Sudah seharusnya pemerintah dan pihak yang berwenang untuk peduli. Peduli kepada para petani yang selalu mengabdi kepada negeri.

Hari Tani, bukan hanya sekadar peringatan formalitas. Namun, maknanya harus lebih jauh dari itu. Di momen ini kita merenungkan bagaimana nasib petani ke depan supaya lebih sejahtera, lebih berdaya, dan lebih makmur. 

Mari kita dukung para petani Indonesia untuk terus melanjutkan pengabdiannya pada negeri melalui aktivitas-aktivitas pertaniannya agar kita bisa hidup tanpa kelaparan, agar kita bisa menggapai impian luhur dengan sehat dan bergizi dari hasil petani Indonesia.

Salam Pertanian Indonesia.

Bogor, 24 September 2020
Muhamad Husni Tamami

Referensi: https://m.sariagri.id/pertanian/60131/sejarah-singkat-lahirnya-hari-tani-nasional

Tags :

bm

Muhamad Husni Tamami

Pembelajar

Spread Goodness and Expedience.

  • Muhamad Husni Tamami
  • Agustus 19, 2000
  • Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  • muhamadhusnitamami@gmail.com
  • +62821 2582 6729

Post a Comment