×Close

Notifications

Disqus Logo

Thursday, January 21, 2021

Cerita Kesaksian 16 Tahun Silam Tsunami Aceh #53

 


Sabtu, 26 Desember 2020 adalah tepat tahun ke- 16 tsunami Aceh, sebuah peristiwa besar yang merenggut banyak nyawa di tanah julukan Serambi Mekkah terjadi. Ya, tepatnya pada 26 Desember 2004. Saya pun masih berusia 4 tahun, belum tau peristiwa itu terjadi saat tahun 2004. Jauh juga antara Bogor dengan Aceh, so peristiwa itu baru terdengar di telinga saya ketika menginjak bangku pendidikan.

 

Dilansir dari Inews.id, pada Ahad, 26 Desember 2004 terjadi gempa berkekuatan 9,2 skala ritcher (SR) mengguncang laut Samudera Hindia. Pusatnya berada di 160 km arah barat, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Beberapa sumber ada yang menyebut 9,1 SR ada juga yang menyebut 9,3 SR. Namun, dilansir dari kabar24.bisnis.com, sejumlah lembaga internasional sepakat menggunakan angka 9,1 - 9,2 untuk mengukur guncangan saat itu.

 

Bencana yang paling mematikan di abad ke- 21 itu memberikan dampak ke berbagai negara. Selain Indonesia, negara lain yang terkena dampaknya adalah Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania Seychcelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagaskar.

 

Kemarin pada Sabtu, 26 Desember 2020 setelah kawan saya Rizki Aditya Putra meminta untuk menuliskan peristiwa bersejarah ini, saya langsung menghubungi salah satu kawan di Aceh. Namanya adalah Muhammad Razi, seorang mahasiswa IPB University yang selamat dari tsunami Aceh 2004.

 

Rumah Duta Wisata Terfavorit Acut 2020 itu bercerita, rumah dia sebenarnya jauh dari masjid Baiturrahman. Masjid tersebut di Banda Aceh. Sementara ia di Aceh Utara, tetapi kena juga, cuman tidak separah di Banda Aceh yang sampai semuanya datar. Kecuali masjid yang masih berdiri kokoh. Ini adalah suatu keajabian Allah yang tak bisa dianalisa dengan pikiran manusia.

 

Dulu ceritanya orang-orang yang berlindung di masjid itu selamat. Katanya, saat air ngalir ke halaman masjid lumayan tinggi dan airnya tidak masuk ke dalam masjid. Tidak merusak masjid sama sekali. Hanya sampah berserakan di halaman masjid cukup banyak. Semuanya tersapu rata oleh air. Ketinggian air waktu itu pertama kali naik sekitar 24 meter.

 

Sebelum terjadi tsunami ada pacuan dari gempa bumi terlebih dahulu. Saat gempa bumi itu terjadi Razi benar-benar merasakan bagaimana rasanya di kondisi panik itu. Semua orang keluar dari rumahnya dan duduk berjejer di jalan menjauh dari bangunan rumah atau gedung yang kemungkinan roboh.

 

"Saya baru berusia 4 tahun benar-benar melihat dan masih ingat betapa kacaunya keadaan saat itu di daerah saya sendiri. Semua pada istighfar, solawat, dan berdoa. Sampek ada yang mengabarkan air sudah naik kendarat, saat itu belum ada sebutan tsunami, jadi masih air naik ke darat kata orang desa," kata Razi.

 

Rumah Razi yang juga toko barang-barangnya yang untuk dijual hancur terendam air. Pernah mengalami kebangkrutan, tapi ia bersyukur karena masih ada beberapa yang masih bisa digunakan.

 

"Dan kejadian pagi itu saya sekeluarga alhamdulillah selamat, karena langsung bergegas siap-siap saat gempa di mulai, dan pada saat air naik kami udah siap untuk ngungsi ke arah selatan. Cuma pada saat kami berangkat, kami cuma ditemani sama ibu kami, karena ayah sedang di luar kota, untuk mengirimkan ikan hasil panen dari desa kita ke kota kota besar di Aceh," lanjut Razi.

 

Ia berangkat dengan berbagai cara. Kendaraan hingga tong yang biasa digunakan jualan ikan keliling dimanfaatkan untuk kebutuhan mengungsi. "Jadi, kami yang kacil-kecil dimasukin ke tong itu biar sekalian bisa pergi rame-rame. Ibu yang berusaha semuanya dan itu menjadi kenangan yang sangat mengena untuk saya ingat. Mulai kami berangkat sampek air laut udah surut lagi, ibu balik lagi ke desa buat lihat kondisi rumah, yang ceritanya penuh dengan sampah dan mayat yang terbawa arus dan nyangkut di dinding-dinding rumah warga," sambung Putera Singkong 2020 itu.

 

Setelah semuanya aman dan air telah surut, ia dan keluarga pulang ke rumah. Razi benar-benar melihat desa dengan penuh sampah. Rumahnya juga basah semua dan semua barang di kardus hancur juga lupuk akibat terendam air.

 

Kondisi sekarang desa Razi sudah kembali normal. Jalan sudah diperbaiki dan banyak bantuan rumah bagi warga yang mengalami kerusakan rumah saat musibah itu. Sampai sekarang msaih dalam tahap pembangunan untuk terus lebih baik.

 

Setelah tsunami itu terjadi, uluran bantuan diberikan oleh banyak pihak. Ini bukti nyata bahwa sesama sudara setanah air harus saling peduli dan timbul rasa kemanusiaan. Tidak hanya dari saudara setanah air, bantuan juga didapatkan dari berbagai negara. Dilansir dari Sindonews terdapat belasan miliar dollar donasi terkumpul. Kemudian dari peristiwa itu dibuatlah museum tsunami yang dirancang oleh Ridwan Kamil dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2004 menetapkan hari berkabung selama 3 hari.

 

Semoga dari peristiwa ini terdapat hikmah yang dapat dipetik dan bisa menjadi pembelajaran untuk kita. Kita tidak tahu di hari esok peristiwa apa yang terjadi. Seyogyanya kita bersiap diri dan selalu ingat Tuhan Yang Maha Esa kapan pun dan di mana pun. Semoga para korban bencana tsunami Aceh 2004 ini di tempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin ya Allah.

Ditulis oleh MHT, narasumber Muhammad Razi, permintaan dari Rizki Aditya Putra

Tags :

bm

MHT

Pembelajar

Spread Goodness and Expedience.

  • MHT
  • Agustus 19, 2000
  • Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  • muhamadhusnitamami@gmail.com
  • +62821 2582 6729

Post a Comment